Sebagai gambaran, laptop dengan harga sebelumnya sekitar 900 dolar AS atau setara Rp15 juta, berpotensi naik menjadi lebih dari 1.200 dolar AS atau sekitar Rp20 juta.
Kenaikan harga tersebut berimbas pada penurunan permintaan. Pengiriman global PC diperkirakan turun hingga 12 persen, sementara segmen perangkat murah di bawah 500 dolar AS bisa mengalami penurunan hingga 28 persen.
Fenomena ini terjadi karena konsumen cenderung menunda pembelian, sementara perusahaan memilih memperpanjang masa pakai perangkat lama.
Di sisi lain, produsen mulai mengubah strategi dengan fokus pada laptop premium yang memiliki margin lebih tinggi, mengurangi produksi perangkat murah, serta menambahkan fitur berbasis AI untuk meningkatkan daya tarik produk.
Selain itu, peralihan teknologi dari DDR4 ke DDR5 yang lebih mahal turut mempersempit ketersediaan RAM untuk pasar konsumen.