Langkah ini dilakukan untuk mengamankan stok di tengah tingginya permintaan pasar.
Lebih lanjut, Ridwan menilai tren kenaikan harga ini berpotensi meluas ke berbagai perangkat elektronik lainnya, mulai dari komputer pribadi, ponsel pintar, hingga peralatan rumah tangga.
Menurutnya, lonjakan permintaan chip dipicu oleh pesatnya adopsi teknologi AI. Produsen semikonduktor saat ini lebih memprioritaskan produksi High Bandwidth Memory (HBM) untuk kebutuhan AI server, sehingga pasokan chip konvensional untuk perangkat konsumen menjadi terbatas.
Kondisi ini berdampak langsung pada biaya produksi laptop. Porsi biaya komponen utama seperti RAM, SSD, dan CPU meningkat dari sekitar 45 persen menjadi hampir 58 persen dari total biaya produksi.
“Jika seluruh kenaikan biaya dibebankan ke konsumen, harga laptop mainstream bisa naik hingga 40 persen,” jelasnya.